Minggu, 09 Desember 2018

Sadar (!)

Tattoan tapi ke mesjid
Biasanya banyak orang yang mencibir orang lain yang nampaknya “kotor” datang ke tempat yang sakral . Anehnya mereka tidak bisa memetik apa pelajaran dari hal yang mereka cibir. Tak mereka pikirkan kelakuan mereka itu membuat tubuh mereka yang “bersih” itu hanya sebagai pajangan saja.

Bukan kah sebaiknya kalian yang bersih tetap bersih dan jikapun kalian kotor maka kembalilah kepada Rabbi.
Bukannya seseorang yang kotor memiliki masa lalu dan sesungguhnya kita yang bersih memiliki masa depan yang tak perlu di jadikan tolak ukur imannya seseorang. Maka jadilah kita orang yang tawadhu dan selalu merasa kurang di hadapan Allah S.W.T


Insya Allah tetap di dalam Islam.

Berdiskusi dengan Kopi

7 Desember 2018
Setelah kegiatan saya pada hari ini usai saya dan ibu saya pergi untuk bersantai sejenak. Bersantai di sebuah kedai kopi dan pilihan kedai kopi yang akan di datangi adalah kedai milik salahsatu orang ternama di Pontianak.

Suasana di sana sangat nyaman dan menenangkan. Di saat pesanan kami telah datang, yaitu dua kopi yang dipanggil espresso kami pun memulai suatu perbincangan. Perbincangan mengenai negeri ini. Negeri yang akan sebentar lagi akan menghadapi pemilihan umum untuk presiden. Pemilu ini terdiri dari dua kubu, yaitu kubu JOKMA dan PADI. Terkadang pandangan orang selalu memiliki perbedaan dan juga terkadang banyak orang yang tidak mau menghargai perbedaan, padahal Indonesia ini adalah negara yang majemuk. Ada baiknya kita merefleksikan sikap kita dengan kemajemukkan negara kita tanpa melupakan agama kita pribadi. 
Diskusi malam ini sebenarnya hanya membahas terkait peristiwa reuni 212 yang di katakan memiliki nilai politik. Menurut saya, ada atau tidaknya nilai politik pada kegiatan ini bukanlah hal esensial yang harus di bahas. Namun, yang harus di bahas menurut saya adalah sisi positif dan teladan yang dapat kita pelajari. Untuk apa kita berdebat terkait perbedaan pendapat ada atau tidaknya nilai politik jika kita sendiri tidak bersikap netral dan berpikiran terbuka. Untuk apa berdebat toh perbedaan tidak mau di terima oleh pembela kedua kubu.

Jika berani berdebat maka beranilah berbeda. Jika berbeda maka berlapang dadalah dan jadikan dirimu jalan tengah. Hingga perbedaan tersebut dapat di cari jalan tengahnya dengan kepala dingin.


Selamat malam para pengamat.
Semoga bermanfaat
 

berbagi paling sederhana adalah berbagi pengalaman Template by Ipietoon Cute Blog Design